Thursday, September 14, 2017

Speech Delay





Dear Mommies...


Pernahkah orang-orang terdekat di sekitar Moms selalu menanyakan kapan anak kita mulai bicara?

Pernahkah hati kecil kita sebagai ibu bertanya-tanya, mengapa anak saya belum bisa bicara?

Atau justru Moms merasa panik saat anak lainnya mulai bertanya ini itu, sementara anak kita belum bisa berbicara sama sekali?



Bahkan Moms mulai merasa stress saat Mommies lain membanding-bandingkan kepintaran buah hati mereka dengan anak kita, terutama kemampuan berkomunikasi.

Pernahkah mengalami semua itu?


Jika semua itu sedang Moms rasakan saat ini, saya sarankan "Jangan panik dulu!!" 😊

Hampir semua Mommies dalam berbagai komunitas parenting yang saya ikuti pernah mengalami hal seperti diatas, termasuk saya.

Ada suatu masa, saya sangat panik kala Musa lebih cenderung diam dibandingkan teman-teman seusianya, baik di sekolah, di rumah, atau saat sepupunya datang berkunjung.

Baca juga tulisan Ike Yuliastuti tentang mengajarkan bahaya pada anak disini

Musa memang cepat berjalan dibanding anak seusianya, gesit, dan memang punya bakat atlit lari marathon hahaha. Alhamdulillah jadinya berat Badan saya selalu dibawah 50kg
*prestasiii luar biasa*
*lebay..biarin* 😁


Beruntung di era digital ini saya tak merasa berkecil hati, banyak komunitas parenting yang bisa saya ikuti. Jadi setiap ada yang bicara kok Musa begini begitu, saya langsung browsing di internet. Search keyword "tumbuh kembang usia ** bulan" atau "Deteksi Dini tumbuh kembang anak". Dan menemukan jawabannya.
 *thanks to Mbah Google*

Terkadang saya sering menghadapi tipe-tipe Mommies yang model begini:

"Eh, anak Kamu kok gak ngomong-ngomong? Jangan-jangan bisu kali? Atau...budheg?"
*kzl*
Jangan stress! Segera buka Google, searching.

Atau yang begini
"Kok anak mbak belum bisa ngomong, Anakku nich udah pintar baca puisi, baca Koran, nyanyi seriosaa, bla-bla-bla"
*terus kita sedih ngelihat anak kita*
Jangan stress! Segera buka Google, searching.

Apalagi yang model begini
"Tahu gak? Si A anaknya dulu juga begitu, sekarang jadi begini. Jangan-jangan Anakmu nanti juga begitu lhoh. Kasihan ya kamu! Sabar ya!"
*may I shoot her in the head?*
Nangis boleh! Setelah itu buka Google, searching.

Dan mulai meradang ketika Musa dibanding-bandingkan dengan anak lainnya dengan Nada nyinyir, apalagi soal kemampuannya berbicara. Believe me Moms, don't ever do that to others! Its hurt their feeling, and so do I 
*asah parang*.

Percaya atau tidak, itulah yang saya alami sejak lama, hingga sekarang anak saya menjalani terapi. Jangan ditanya sakitnya hati saya ya, yang pasti sabar harus distok dalam peti kemas yang besar.



Okay...curhatnya berhenti dulu, nanti lanjut lagi #eh.

 Boleeeh mendengarkan orang lain, asalkan kita juga punya evidence yang kuat, artinya kita punya bukti pegangan bahwa pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan usianya, tidak ada keterlambatan. 



Jadi Moms harus abaikan dulu kesal, sebal, sedih akibat omongan-omongan orang lain. Mari konsentrasi pada tumbuh kembang buah hati Moms, khafilah harus move on donk ya!!!



Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia perkembangan anak meliputi motorik kasar, motoris halus, bahasa/bicara, dan personal sosial/kemandirian. Bahkan dari hasil penelitian sekitar 5 hingga 10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan 



Data angka kejadian keterlambatan perkembangan umum belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan sekitar 1-3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan umum.




Pada Postingan kali ini saya ingin berbagi mengenai "Apa saja yang perlu Moms lakukan bila anak mengalami speech delay", sesuai dengan yang saya dan Musa alami.

Jangan panik saat anak mengalami Speech Delay, Moms!


Amati tumbuh kembang anak 

  • Mulailah mendownload Kuesioner KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan), atau 
  • membeli buku tumbuh kembang anak di toko buku, atau 
  • cermati buku KIA dari Kementrian Kesehatan.


Amati pertumbuhan dan perkembangan buah hati Moms sejak bayi. Amati setiap fase perkembagan anak, mulai mengangkat kepala, duduk, berguling, merangkak, berjalan, hingga berlari. Kemampuan mendengar, dan melihat, serta banyak hal lain yang ada dalam kuesioner.

Termasuk jenis makanan apa saja yang membuat anak alergi.




Cek menggunakan KPSP atau Denver

Gunakan Kuesioner PraSkrining Perkembangan untuk memantau perkembangan buah hati Moms.


Mulailah melakukan deteksi dini tumbuh kembang anak sejak dini, jadi Moms tidak merasa digurui bila buah hati sedikit berbeda dibandingkan anak lain seusianya. Saat perkembangannya sesuai dengan usianya, Moms akan merasa lebih tenang, meskipun banyak yang bilang kok begini, kok begitu.

Pada kuesioner KPSP, perkembangan diukur mulai Usia bayi 0-3bulan, hingga 12 bulan ke atas, perhatikan hitungan usianya ya Moms.

Catat di notes kapan mulai ada keterlambatan perkembangan, hal ini penting sekali, saat ada penurunan atau kemunduran Moms bisa mengetahui dari catatan tersebut. Gunakan catatan ini sebagai bahan untuk konsultasi dengan dokter spesialis anak, bidan, atau tenaga medis lainnya.

Berikut ini adalah tanda bahaya (red flag) yang perlu diperhatikan pada anak ya Moms, saya kutip dari IDAI.or.id disampaikan oleh dr.Bernie Endyarni Medise, SpA, di muat di harian Kompas (9 - 6 - 2013).

Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)
  1. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu benda pada usia 20 bulan
  2. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
  3. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan

Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)
  1. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat dipanggil tidak selalu member respons
  2. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan
  3. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan

Tanda bahaya gangguan sosio-emosional
  1. 6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain
  2. 9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
  3. 12 bulan: tidak merespon panggilan namanya
  4. 15 bulan: belum ada kata
  5. 18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura
  6. 24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti
  7. Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan bersosialisasi / interaksi

Tanda bahaya gangguan kognitif
  1. 2 bulan: kurangnya fixation
  2. 4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda
  3. 6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara
  4. 9 bulan: belum babbling seperti mama, baba
  5. 24 bulan: belum ada kata berarti
  6. 36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata.




Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak 

Apabila ada keterlambatan tumbuh kembang, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau bidan. 

Dokter Spesialis Anak akan melakukan serangkaian observasi terhadap buah hati kita dan juga Moms akan diwawancarai (secara kalau anaknya speech delay, komunikasi dengan dokter terbatas khan ya?). Jawablah dengan sejujur-jujurnya Moms. Istilah medisnya Anamnese.

Misalnya: Moms akan diwawancarai sejak kapan terlambat bicara, pola pengasuhan dirumah bagaimana, bila bekerja anak diasuh oleh siapa, jika suka menonton gadget berapa lama frekuensinya dalam sehari, dll tergantung kondisi anak.

Kemudian anak akan diminta untuk melakukan aktivitas seperti dipanggil namanya dari depan-belakang-samping, di minta mencorat-coret kertas, atau apa saja. Anak juga diperiksa kondisi telinga, dan mulutnya. Dan juga biasanya dilakukan skrining menggunakan Tes Denver. Tes Denver ini bukan untuk mendiagnosa ya Moms, metode ini untuk skrining kelainan perkembangan anak.

Jika Moms sudah pernah menggunakan KPSP, sampaikan bahwa Moms mengetahui anak speech delay dari kuesioner tersebut.

Apabila ada kondisi tertentu yang mengharuskan anak menjalani serangkaian tes pendengaran, Moms akan disarankan oleh DSA untuk konsultasi ke Dokter spesialis THT.





Menjalani Serangkaian Tes Pendengaran

Biasanya bila anak tidak menoleh ketika dipanggil, atau dipancing suara/bunyi-bunyian tidak merespon, dokter akan menyarankan untuk melakukan tes pendengaran.

Untuk memastikan kondisi pendengaran anak, dokter membutuhkan serangkaian tes. Jadi bukan hanya kita sebagai orang tua meyakinkan dokter bahwa anak kita bisa mendengar. Tapi perlu ada bukti otentik bahwa hasil tes positif bisa mendengar.

Biasanya anak akan diminta melakukan tes pendengaran yang objektif, dilakukan dengan alat elektrofisiologi. Tes OAE dan Tes BERA di rumah sakit/klinik yang direkomendasikan oleh dokter THT. 

OAE (Otto Acoustic Emission) merupakan salah satu tes untuk mengetahui kondisi rumah siput (koklea). 

 BERA (Brainstem Evokad Response Audiometry) merupakan tes untuk mengetahui kondisi saraf pendengaran sampai batang otak. (IDAI.or.id)

Saat akan menjalani tes OAE dan BERA anak akan diberikan obat tidur, sebaiknya tidur lebih larut dari biasanya, dan Bangun lebih cepat agar tidurnya lelap saat tes.

Tarif tes OAE dan BERA kami dikenakan Rp.750.000, termasuk konsultasi dengan Dokter Spesialis THT ya Moms.



Memulai Sesi Terapi

Bila hasil tes pendengaran OAE dan BERA menunjukkan hasil bahwa pendengaran baik. Moms akan diberikan informasi terapi apa yang cocok untuk anak. Bisa langsung terapi wicara atau justru perlu terapi SI/OT terlebih dahulu. Tergantung dari kebutuhan anak.

Sebelum melakukan terapi, anak akan menjalani Assessment terlebih dahulu. Setelah itu anak akan menjalani proses terapi.






Bagi Moms yang ingin bertanya lebih lanjut, bisa bertanya melalui jalur privat di email atau inbox melalui social media ya.

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman saya pribadi, tentu berbeda dengan kasus yang dialami oleh orang lain. Kembali lagi serahkan kepada masing-masing pakar di bidangnya. Mohon hindari perdebatan sengit, apabila ingin berdiskusi, mari berdiskusi yang santun Mommies tersayang.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Moms semua. Silahkan ambil kebaikan didalamnya, dan buang keburukannya. Saya senang bila Moms ingin sharing juga mengenai kondisi buah hatinya, Mari berdiskusi di kolom komentar ya.


Reference :
www.idai.or.id

Photo credit: 
Pexels.com

Happy sharing and happy blogging, Moms♥





31 comments:

  1. Bener banget Bunda. Jika ada orang yang nyinyir ke kita tentang anak kita. Kita jangan langsung percaya. Kita harus cari tahu dulu ilmunya dengan langkah2 yang bunda jelaskan diatas. Dan jika bertanya sebaiknya langsung pada ahlinya atau orang yang tau ilmunya. Biar kita ga salah langkah. Setuju ama Bunda. Oh ya, salam buat Musa nya ya 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menelan mentah-mentah omongan orang bisa bikin baper ya Kak Yeni, mending tanya ahlinya atau baca buku tumbuh kembang :D

      Delete
  2. Setiap anak istimewa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya menjadikan mereka unik

    Setuju banget, daripada baper sama.omongan orang lain lebih baik langsung bertanya pada ahlinya

    ReplyDelete
  3. Hikss aku ngerasain banget yg kyak gini.. Anakku skrang mau tiga tahun, dia suka ngomong sih cuma pelafalannya sering ngulang dan kurang jelas. Dan ga banyak org ngerti, lad

    ReplyDelete
    Replies
    1. Distimulasi aja Kak, sesuai tumbuh kembang usianya :)

      Delete
  4. Ini pas banget. Saya lagi cari referensi ttg speech delayed karena kepikiran omongan orang "koq anaknya cuma bisa gitu", lagi2 orang yang sibuk dg hidup kita *zzzzz

    ReplyDelete
  5. Anak yang besar dulu juga telat bicara, mb. Sampai umur 27 bulan baru bisa bicara emam buat makan, nunun buat minum, ngeng buat mobil, uwing buat bantal, abeka buat boneka

    Alhamdulillah bisa bicara juga lama-lama. Jalannya pun juga telat. 18 bulan baru mau jalan, tapi langsung bisa lari. Sebelumnya ditetah aja gak mau. Langsung ndheprok

    Sempet ditanya orang-orang juga, tapi sayanya mah cuek aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh paling senang kalo dengar cerita anak speech delay yang sudah bisa ngomong dan udah besar. Semoga debat selalu anak-anak kita yaa Mbak Dila

      Delete
  6. smoga anakku ga ngalami speach delay,,saran dsa sih jgn dikasih gadget terlalu dini... anakku awal2 malah di diagnosa global development delay ringan gara2 kesalahan perlakuan sehari2 ke anak... *emaknya nangis guling2 sambil jedot2in pala,,,maafin emak ya nak...

    dr umur 9 bln blm bs didudukkan tegak & cenderung pngen rebahan... panas telinga dengerin org2 nyinyir aq bw deh konsul ke dokter KTK (klinik tumbuh kembang),,alhamdulillah seminggu diajari cr melatih anak di rmh akhirnya bs duduk & skrg umur 11 bln sdh mulai berdiri2...

    semua bayi istimewa,,pola tumbuh kembangnya berbeda,,smoga titipan2 Allah ini tumbuh sehat, cerdas, sholeh/sholehah...

    nb: bagi2 tipsnya dong umi musa gmn cr nglatih anak biar ga telat ngmgnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Mbak Diah, adek bayinya langsung distimulasi yaa.. Sering-sering distimulasi sesuai usianya, jauhkan dari gadget, jangan terlalu lama menonton TV apalagi hp, di ajak komunikasi dua arah terus menerus. Selamat menikmati bermain bersama Si kecil Mbak Diah :D

      Delete
  7. Alhamdulillah anak-anakku perkembangannya cepat, termasuk kemampuan berbicaranya soalnya Maminya cerewet 😆

    Betul kata Ummi Musa, gak usah panik kalo anak kita lebih lambat dari anak lain. Kan cepat lambat perkembangan anak beda-beda.
    Semoga sehat selalu nak Musa 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Kak Ery...aduh anak Kak Ery mah kayak adeknya hahaha..mama awet muda!!!

      Delete
  8. tumbuh kembang anak memang beda2 ya mbak. Saya juga awalnya agak kwatir dengan anak saya yg belum mampu merangkai dua kalimat sesuai umurnya. saya ngak sampai konsultasi dokter sih. Saya cuma cek telinganya dengan memanggil nama dr jauh atau menjatukan sendok ehh dia dengar so ngak ada problem dengan telinga. Trus, saya latih bagian otot mulutnya mbak, misalnya dengan minum pakai sedotan dan meniup mainan dll. Ini sih saya baca dr buku. Alhamdullilah sekarang cerewet bngt kyk emaknya. Tapi, kalau ragu lebih baik ke dokter tumbuh kembang, krn bila ada masalah bisa langsung dibantu. Thanks for sharing mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Kak Mukz, senang mendengarnya..semoga kaka anaknya sehat selalu yaa :)

      Delete
  9. Saya pribadi selalu yakin tumbuh kembang anak itu ga ada yang sama jadi saya tetap optimis dengan keyakinan saya terus memberikan stimulasi kalau dengerin omomngan orang emang bikin nyelekit tapi abaikan yang begitu seenggaknya sebagai ibu kita mesti pandai untuk meyakinkan bahwa anak kita fine dan tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangannya. trims mba tips2nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak Herva..selain yakin dengan feeling juga konsisten mengecek tumbuh kembangnya dati kuesioner/Denver/KMS..jadi kita semakin yakin. Salam kenal.

      Delete
  10. Anak pertama saya speech delayed, setelah screening awal oleh dra perusahahaan Autis, lalu dirujuk ke dokter #1 (klinik besar di Jakarta) didiagnosis PDDNos usia 3th (2012) lanjut terapi. Usia 4th (2013) saya bawa ke dokter #2 (klinik besar di Jogjakarta) didagnosis ADHD. Lalu lanjut terapi.
    2 bulan kemudian kami kembali dirujuk ke dokter #3 (klinik besar di Bandung) yang kebetulan saat itu sedang bekerjasama dengan klinik perusahaan suami. Oleh dokter tersebut didagnosis Gangguan Bahasa Ekspresif (GBE) suspect Disleksia. Lalu kami melanjutkan terapi di Bandung 2.5tahun lamanya.
    Kini anak saya sudah 7th 11bulan Alhamdulillah bicaranya sudah lancar hanya sedikit kesulitan membuat kalimat efektif. Dan terapi sampai sekarang masih berlanjut.
    So, mommies...don't give up and never ever give up

    Cari terus kalau perlu second, third, fourth oppinion...
    Semakin muda usia anak semakin mudah dibentuk dan di arahkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Maedaaaa..thank you sharingnya. saya juga, ini second opinion yang ke Lima Mbak hahaha..alhamdulillah penanganan Dini, sudah banyak kemajuan..menanti diagnosa memang mendebarkan. Barakallah Mbak.

      Delete
  11. kadang orangtua sudah legowo dengan anak yang speech delay, dan terus tetap berjuang. Eh tapi lingkungan itu loh, yang bikin elus - elus dada, apalagi nynyirnya, kayak dia hidupnya paling bener aja *emosi* :D

    ReplyDelete
  12. Anakku yang kecil speech delay, mbak..mungkin bingung banyak bahasa yang didengar, akau ke bapake ngomong Jawa?indonesia..ke kakaknya ngomong Inggris/Indonesia..lingkungan banyak ngomong Inggris..jadi dia bingung pala berbie kali..

    Syukurnya, nggak kenapa-kenapa..giliran pas udah lewat dua tahun..nyrocosnya..sampe sekarang banyak omong :D

    ReplyDelete
  13. Dulu anak saya speech delay, karena kurang stimulant. Setelah 3 tahun, dan distimulasi, semua lancar.

    ReplyDelete
  14. Anakku uvulanya terbelah mbak. Jadi bicaranya sering kurang jelas. Ini yang sering jadi bahan olokan orang disekelilingnya. Sedih rasanya kl lihat mbak.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah sih anakku gak mengalami tanda2 keterlambatan ini.

    Memang itu dia mba, kadang orang bingung cari topik pembicaraan. Padahal kalau kita mau peka banyak hal baik yg bisa dibicarakan lho daripada mengusik kekurangan sesama.

    ReplyDelete
  16. alhamdulillah anakku gak jadi delay....tadinya dia meman belum lancar nomon...eh memasuki tiga tahun langsung ngecipris...alhamdulillah......

    ReplyDelete
  17. Dunia emak-emak memang kadang diselingi oleh para nyinyi-nyinyiers ya hihihi...
    Abaikan saja, deh! Lebih baik kita fokus pada perkembangan anak-anak. Teman dekat saya juga punya anak speech delay. Usia 4 tahun belum lancar berbicara, dilakukan terapi terus, dan di usia 5 tahun terlihat hasilnya, dia bisa lebih banyak bicara.

    ReplyDelete
  18. waktu masih ngajar di PAUD,ada anak murid yg rada pendiam dan memang sedikit kesulitan bicara,usianya sudah 5 tahun kala itu, saat itu sang ibu memebri penjelasan, jika bapaknya dulu bisa bicara umur 7 tahun.. wkwkwkwkwk, padahal Bapaknya skrang udah jadi pejabat pemprov

    ReplyDelete
  19. Makasih Banyak Infonya,untuk informasi menggenai resep masakan Eropa Paling enakk Klik Disini

    ReplyDelete
  20. Tfs ya mbak, jadi tau soal kuisioner tumbuh kembang anak.
    Semoga semuanya selalu diberikan kesehatan selalu ya, aamiin.

    ReplyDelete

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES