"Selamat siang Mbak Dira, perkenalkan saya Nisa.
Anak saya dibilang dokter sebagai anak berkebutuhan khusus.
Apa yang harus saya lakukan Mbak?
Saya sangat sedih😭".
Sebuah pesan masuk di aplikasi whatsapp, satu dari sekian banyak pesan yang sama, yang masuk di inbox media sosial. Sambil menahan nafas, saya membacanya perlahan, berulang kali sebelum membalas pesan penting itu.
Sejak menuliskan beberapa cerita tentang Anak Berkebutuhan Khusus di blog, saya sering menerima permintaan pertemanan di Facebook dan Instagram, kemudian menginbox untuk sekadar sharing atau meminta advice tentang stimulasi di rumah.



