Showing posts with label ABK. Show all posts
Showing posts with label ABK. Show all posts

Tuesday, May 8, 2018

Ketika Buah Hati Dinyatakan sebagai "Anak Istimewa"


"Selamat siang Mbak Dira, perkenalkan saya Nisa. 
Anak saya dibilang dokter sebagai anak berkebutuhan khusus. 
Apa yang harus saya lakukan Mbak?  
Saya sangat sedih😭".



Sebuah pesan masuk di aplikasi whatsapp, satu dari sekian banyak pesan yang sama, yang masuk di inbox media sosial. Sambil menahan nafas, saya membacanya perlahan,  berulang kali sebelum membalas pesan penting itu.

Sejak menuliskan beberapa cerita tentang Anak Berkebutuhan Khusus di blog, saya sering menerima permintaan pertemanan di Facebook dan Instagram,  kemudian menginbox untuk sekadar sharing atau meminta advice tentang stimulasi di rumah.

Wednesday, February 7, 2018

Harapan Di Usia 40 tahun ❤




"Usia Empat puluh tahun aka Forty years old. Apakah saya masih hidup?

Itulah yang terlintas pertama kali di benak saya saat Kak Indah Julianti menginformasikan post tematik KEB mulai hari Rabu. Bukan apa-apa,  setelah beberapa hari mendengar berita kematian di media massa,  saya tiba-tiba merasa... kosong. 

Usia empat puluh tahun akan saya hadapi enam tahun lagi,  tentu saya punya harapan besar menghadapi masa depan. Tumpukan resolusi akhir tahun juga masih banyak yang belum terealisasi *nangis di bahu Iqbal Ramadhan* #eh

Insyaallah jika masih ada umur panjang untuk meraih usia empat puluh tahun, banyak hal-hal yang ingin saya lakukan di usia "ranum" itu (karena "matang" terlalu mainstream kakak!  *ditabok Milea*).


Apa saja yang ingin saya lakukan di usia empat puluh tahun? 

Sunday, February 4, 2018

Kami Hanya Manusia Biasa Seperti Orang Tua Lainnya





Menjadi orang tua yang memiliki anak ABK adalah amanah Allah yang harus kami terima.

Beratkah?

Jangan ditanya.

Saya,  pernah menangis tak henti-henti saat anak saya menuangkan sop keatas lauk yang sudah saya masak sejak pagi. Saya juga masih sering menangis saat anak saya dikatakan "nakal dan aneh". Saya juga merasakan marah dan sedih saat dikatakan sebagai orang tua yang tidak mengajarkan anaknya etika dan sopan santun. Saya lelah dengan stigma yang merendahkan anak ABK. Saya juga khawatir dengan masa depannya.

Saya juga seperti manusia biasa seperti yang lainnya.


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES