Wednesday, October 31, 2018

Ibu Rumah Tangga, Usaha dengan Pengelolaan Keuangan

source : Canva

Dear readers... Kebayang gak sich kalau sekarang berbisnis jauh lebih mudah dibandingkan jaman dahulu kala? Tentu saja persaingan dalam bisnis juga semakin berkembang pesat. 

Era digital yang semakin berkembang pesat saat ini menuntut para pekerja industri creative bekerja giat. Berbagai inovasi harus semakin dikembangkan oleh para pelaku industri. Dengan beradaptasi terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen serta kemampuan mengikuti pesatnya informasi, para pelaku industri kreatif akan mudah menghadapi tantangan di masa depan.


salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan modal usaha adalah moda yang kuat. Tak dapat dipungkiri modal memegang peranan penting bagi para industri kreatif yang berjibaku dengan persaingan yang ketat.

Dengan adanya pasar khusus industri kreatif ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sehingga semakin banyak lapangan kerja yang dapat dimasuki oleh para pencari kerja, hal ini akan berdampak positif bagi ekonomi negara.


Thursday, August 2, 2018

Tips Konsisten Ngeblog ❤


My beloved readers... 

Judul tulisan diatas menampar-nampar wajah saya hehehe. Gimana engga, tips konsisten ngeblog tapi yang punya blog jarang one day one post *sentil*.

Sebagai seorang blogger, konsistensi dalam mempublish sebuah postingan adalah hal yang penting.  Jika tak konsisten, kita akan banyak kehilangan pembaca dan jumlah kunjungan pasti akan menurun.

"Kok bisa Mbak Dira?"

Iya donk, kalau tampilan halaman depan blog isinya itu melulu, pembaca akan boring, malas membuka isi blog kita. Padahal mungkin isinya bagus-bagus, but nothing new.  It's boring! 

Nah... Saya sendiri punya tips untuk menjaga ngeblog tetap konsisten di jalurnya. 

Apa aja sich caranya? 

Yuk.. Baca yuuuukk 😘😍

Saturday, July 21, 2018

Ide dan Inspirasi Fashion Ala Artis Korea ❤



Hallooo readers... Ada yang suka nonton drama Korea alias drakor?
Siniii dulu, salaman sama Eonnie Dira 😁😂 hahahaha.

Jika teman-teman  adalah penggemar KPop atau KDrama, pastinya sudah tak asing lagi dong dengan fashion yang dipakai para artis Korea.

Saya suka banget kalau lihat pakaian saat Kdrama dengan setting musim dingin, langsung dech dapat inspirasi buat mix and match pakaian di lemari. *ahaaay*

Terlepas dari keseruan drama dan juga musiknya yang sangat luar biasa, Korea juga bisa menginspirasi para remaja masa kini dalam hal fashion, lho.

Gaya berpakaian para kawula muda Korea yang terbilang chic dan juga stylish sukses jadi panutan banyak orang. Terang saja fashion korea kini juga tengah menjamur di Indonesia. Apalagi fans Kdrama di Indonesia mulai dari remaja hingga emak-emak 😁. *tunjuk tangan*

Berikut ini beberapa inspirasi fashion ala Korea yang bisa membantu teman-teman agar bisa tampil trendi seperti artis korea.

Wednesday, July 18, 2018

Tips Merawat Kemeja Hitam Wanita Agar Awet Dan Warnanya Tak Pudar


Hallo Mommies... Apa kabar? 
Ngomong-ngomong soal baju nich,  ada yang punya warna pakaian favorit?

Hitam!
Saya suka sekali warna hitam,  mulai dari tunik, kemeja, kaos, gamis, vest, hingga celana dan rok. Semua jenis pakaian saya pasti ada yang warnanya hitam 😊. Freak buanget sama warna ini.

Hitam menjadi warna dominan dari isi lemari saya lhoh. Hampir separuh jumlah pakaian saya berwujud salah satu warna zebra cross ini hehehe.

So, wearing black is totally georgeus for me! 


Untuk kaum wanita, setiap hari tampil stylish tidak lagi menjadi sebuah masalah. Justru malah  menyenangkan, karena Moms akan berkreasi dengan padu padan warna setiap waktu. Apalagi untuk wanita berhijab, berbagai macam motif hijab akan lebih mudah bila di mix and match dengan pakaian warna hitam


Jika Moms punya kemeja hitam, kadang jika sudah lama warnanya akan tampak kusam. Nah... Bagaimana cara merawat kemeja hitam wanita agar awet dan warnanya tak pudar? 
Kita cari tahu di sini yuk!

Friday, June 29, 2018

Lindungi Buah Hati dari TBC dengan Imunisasi BCG



Vaksin bcg – Imunisasi memang sangat banyak dilakukan terhadap anak-anak dimana mereka yang baru lahir biasanya membutuhkan suntikan khusus untuk membuat daya imun mereka menjadi lebih kebal. 

Meski sekilas bayi terlihat sehat, namun pada kenyataannya mereka sebenarnya masih sangat lemah dan membutuhkan kekebalan ekstra agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Itulah mengapa imunisasi sangat dibutuhkan oleh mereka agar tubuh mereka dapat menjadi lebih kebal hingga beberapa tahun mendatang. 

Salah satu bentuk imunisasi yang dilakukan terhadap anak – anak yang masih balita ialah imunisasi BCG atau biasa disebut juga dengan istilah vaksinasi BCG. 

Sama halnya dengan namanya, imunisasi BCG ini dilakukan dengan cara pemberian vaksin BCG bayi.

Pengertian Vaksin BCG

BCG ialah singkatan dari Bacillus Calmette Guerin.

Imunisasi DPT, Langkah Awal Supaya Anak Sehat dan Kebal terhadap Berbagai Penyakit


Dear Mommies... Semua orang tua pasti menginginkannya anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat ya.  Oleh karena itu, penting bagi anak untuk mendapatkan imunisasi DPT supaya sistem imunnya menjadi lebih kuat dan tahan terhadap  penyakit, khususnya penyakit difteri yang akhir-akhir ini kembali marak dan banyak menyerang anak-anak. 


Apa itu imunisasi DPT?


Imunisasi berasal dari kata "imun" yang berarti "kekebalan tubuh"

Jadi, imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Adapun pengertian DPT ialah singkatan dari Difteri, Pertusis, dan Tetanus. 

Imunisasi DPT ialah salah satu upaya peningkatan kekebalan tubuh terhadap penyakit Difteri, Pertusis, dan Tetanus

Wednesday, June 27, 2018

Cintai Mereka Seakan Tak Ada Lagi Hari Esok ❤



Hari itu benjolan di bekas operasi saya sedang bengkak. Sepertinya menekan syaraf, hingga kaki kiri saya terasa kesemutan seharian.

Obat penghilang rasa nyeri tak mampu menahan sakitnya. Untuk berjalan ke kamar mandi rasanya ampun-ampunan. Belum lagi, Musa seharian minta perhatian, lebih dari hari-hari biasanya.

Di tengah rasa sakit yang mendera, sempat terpikir, bagaimana bila saya meninggal besok?

Apakah bekal saya cukup?
Tentu jawabannya tidak.

Apakah saya takut? Siapa yang tidak takut menghadapi kematian?

Seperti apa didalam kubur?
Siapa sahabat sejati yang menemani perjalanan panjang itu?  Apakah amal ibadah atau dosa?

Belum sempat berpikir bagaimana nanti perjalanan di akhirat?
Lalu, saya mulai menangis.

Bagaimana Musa nanti jika saya pergi?
Siapa yang akan menyayanginya seperti saya?
Siapa yang akan sabar terhadapnya seperti saya?
Apakah ia bisa mandiri bila saya pergi?
Apakah ia bersedih bila saya tak ada lagi di sisinya?
Apakah ia tahu, saya Ibunya sangat menyayanginya?

Pertanyaan itu terus muncul dan muncul.

Mungkin, sebagian orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus akan cemas dengan masa depan buah hatinya, sepeninggal mereka.

Melatih anak-anak untuk menjadi mandiri dan berdaya adalah pekerjaan rumah setiap hari. Tak ada waktu untuk termenung,  waktu terus berjalan,  usia  mereka bertambah.

Mengenalkan anak-anak pada saudara,  kerabat terdekat. Menciptakan bounding yang erat,  dan memberitahukan sifat-sifat anak kepada keluarga terdekat bisa menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan anak kepada orang lain.

Mengajaknya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan keluarga, tetangga,  dan kerabat akan membuat anak belajar mengenal lingkungan sekitar.

Memberikan kesempatan pada anak untuk dekat dengan anggota keluarga yang lain,  selain Ibunya juga salah satu upaya agar anak belajar percaya dan nyaman kepada orang lain.


Semoga mereka semua tetap menyayangimu Nak,  hingga kapanpun, meskipun Mami sudah tak ada.


*sebuah catatan pendek*

Tuesday, June 26, 2018

Menulis adalah hobi. Menjadi juara adalah bonus? ❤


Menulis bagi saya adalah hobi sekaligus sarana penghilang stres. Menulis menjadi "me time" istimewa, bermanfaat menjaga pikiran agar tetap waras dan berfungsi dengan baik.

The Journey of An Ordinary Mom ❤ adalah blog yang mendampingi saya meraih impian dan harapan. Begitu banyak harapan bersinar setiap hari, saat mendampingi Musa tumbuh dan berkembang. Impian menjadi penulis, yang perlahan-lahan mulai berani saya tapaki tangganya.

Blog selain sebuah media untuk menyalurkan energi yang melimpah ruah, juga menjadi sarana bersosialisasi dengan para blogger. Tempat untuk menuangkan pengalaman menstimulasi Musa, berbagi informasi tentang perjalanan-perjalanan wisata, dan bejana berisi perasaan-perasaan campur aduk kala menjadi orang tua dari seorang anak berkebutuhan khusus.


Melalui blog, saya merasakan banyak perkenalan dengan teman-teman baru. Sangat indah dan menyenangkan. Ibarat makan makanan bergizi, saya merasakan banyak tulisan positif yang membantu saya bertumbuh menjadi seorang penulis.

Melalui komunitas blogger, akhirnya saya mengenal ketiga perempuan keren ini. Dimana mereka berada,  selalu ada saya *lol*.

Kebetulan nama depannya sama semua, diawali dengan huruf D. 

Kesamaan lainnya, sebagai blogger kami selalu bersaing ketat dengan skor DA/PA. Kami punya beberapa kesamaan dalam hobi menulis buku kisah inspiratif, cerita anak dan mengikuti berbagai ajang lomba. Mereka menjadi salah satu penginspirasi saya untuk terus menulis dan berbagi. Jangan ditanya kemampuan mereka menulis One Day One Post dan menjadi juara lomba, jago banget.

So, akhirnya saya putuskan untuk mengajak [dengan paksa] mereka bertiga menulis di blog saya alias guest post hihihi.



Berikut ini sharing mereka tentang dunia blogging,  passion menulis,  dan lomba blog. 
Siapa saja mereka? 
 Please welcome 
Mbak Damar, Mbak Dian, dan Mbak Dwi Arum.

Check it out, yooo! 😁

Thursday, June 21, 2018

Stimulasi Kontak Mata pada Anak Berkebutuhan Khusus ❤



"Mbak Dira, anaknya  selama ini terapinya apa aja?" 
"Kalau di rumah, stimulasi apa aja biasanya yang Mbak Dira lakukan?" 
"Seberapa efektif terapi buat perkembangan anaknya? "


Terapi bagi kami adalah salah satu jembatan penting bagi perkembangan Musa,  anak saya.

Tanpa terapi,  bisa dipastikan kami akan kebingungan dalam jangka waktu yang panjang, galau berkepanjangan, cemas dan khawatir. Demi mendapatkan terapi, kami memutuskan pindah ke Surabaya.

Terapi memberikan banyak ilmu baru, mengenai cara stimulasi yang harus dilakukan di rumah. Serta dapat mengetahui perkembangan yang dicapai oleh anak dalam rentang waktu tertentu.

Biasanya saya selalu mencatat hasil catatan terapis. Menanyakan kepada terapis, apa saja PR (pekerjaan rumah) stimulasi yang harus kami lakukan di rumah.
Dengan demikian, terapi 1 jam 2 kali seminggu akan efektif jika di rumah kami pun melakukan hal yang sama.

Monday, June 18, 2018

Karena Hati Mereka Tidak Sebercanda Itu ❤



Haiii Milea, tulisan ini kutulis khusus  untukmu 😊. Tentang kamu, aku,  dan mereka, para orang tua dengan anak istimewa. Mereka yang berjuang menggenapi hati masing-masing. Menatap masa depan dengan penuh keyakinan. 

❤❤❤

Seorang sahabat datang berkunjung ke rumahku. Sebut saja namanya Milea. Sekian lama kami tak pernah berjumpa, sejak ia merantau ke negeri seberang. 

Riuh obrolan tentang kerinduan kami di masa lalu. Tentang reuni,  silaturahmi, dan beraneka pertemuan. Ia tampak bahagia pulang ke tanah kelahirannya. Bercerita tentang segala hal di perantauannya.

Tibalah saat ia terdiam. Ah, perempuan tegar itu akhirnya membuatku pilu.

"Semua salahku, Ra."
"Semua ini salahku, gara-gara aku!" ucapnya sambil meremas tanganku.

Aku tahu, pembahasan yang sama seperti yang sudah-sudah. Pengalaman kami,  untuk saling menguatkan. Kadang kala,  aku yang sibuk menyalahkan diri sendiri, Milea yang menenangkanku. Begitu pun sebaliknya.

"Apa, Mi? Kenapa lagi kali ini?" ujarku tak sabar. Aku tak punya sifat setegar dirinya. Perempuan berhati besar, yang membesarkan anak ABKnya di perantauan. Ia yang sekuat itu menghadapi dunia, harus menangis tergugu di hadapanku.

"Kemarin, aku ikut reuni. Awalnya semua baik-baik, Ra." ucapnya.
Tangannya sibuk menyeka air mata. Bagiku ia tetap cantik.

"Terus?  Ini tangisan apa? Gara-gara reuni itu?" lagi-lagi aku tak sabar.

"Akhirnya, ada yang bilang pantesan anakmu begitu lha kamu sibuk kerja." tuturnya lirih. Ah... Kini aku paham maksudnya.

"Terus?"
"Mulai dari situ banyak yang tanya-tanya dan ngajak diskusi, Ra."
Mengajak diskusi?
Manis sekali, bukan?  Itulah Milea, selalu punya sisi positif meskipun sebagian dunia menghakiminya. Jangan tanya kalau itu terjadi padaku.

"Jadi, gara-gara ditanya itu, kamu nangis kayak gini?"

"Belum. Masih panjang. "
"Oh oke. Go a head."
"Begitu mereka tahu aku resign. Ada beberapa teman yang mulai ngomong tentang enaknya hidupku."
"Gimana, Mi? Emang enak hidup kita." cangkir teh di tanganku mulai dingin.
"Pantesan makin kinclong aja. Enak banget ongkang-ongkang kaki di rumah lah ya!"
"Aduh. Kalo aku jadi kamu, pasti enak banget. Di rumah kerjaan cuman makan tidur makan tidur melulu. "

Aku tertawa. Begitu lah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Entah semua itu kalimat ujaran keirian atau kenyinyiran. Padahal di perantauan kami sama-sama tak punya asisten rumah tangga. Tawaku terhenti,  saat Milea mengucapkan kalimat berikutnya.

"Yang bikin aku sedih Ra. Pas mereka bilang tentang Tara."
"Apa?  Bilang apa? " aku bersiap-siap, menahan nafas.
"Kalau kamu di rumah aja, itu kenapa si Tara kok ga ada perkembangan? Perasaan sama aja kayak tahun lalu." air matanya mulai merebak.

"Emang di rumah gitu ngapain aja? Terapinya kok kayak gak ngefek gitu? 

"Ngabis-ngabisin uang aja kali. Kayaknya kamu perlu pindah klinik dech, Mi. Apa ganti dokter gitu, Mi. "

"Itu pasti gara-gara kamu sibuk kerja Mi. Tara kamu taruh di Day Care,  jadinya gak terurus."

Tepat di kalimat terakhir. Tangis Milea pecah. Aku, hanya diam. Kuputuskan untuk tidak memeluknya dalam kondisi begitu. Aku, sama rapuhnya seperti dia. 
Aku, cukup amat sangat mengerti perasaannya saat itu. 
Aku pun mengalami juga, dihempaskan dengan kalimat-kalimat tak berfaedah itu. 
Aku, memutuskan memeluk hati dan pikiranku sendiri. 
Kubiarkan Milea menangis, supaya semua energi negatif itu keluar dari pikirannya, dari jiwanya. 

Cukup lama kami berdua berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku tak bernafsu lagi minum teh, makan kue pun tak sanggup.
Milea sibuk menyeka wajahnya dengan tissue.

Ah. Hati Milea, hati kami, hati mereka tidak sebercanda itu.
Hati orang tua dari anak ABK mungkin ditempa dengan berbagai macam ujian. Termasuk ujian kalimat-kalimat tak berfaedah yang menggembosi semangat yang sudah diatur sedemikian lamanya. Kalimat-kalimat yang menjadi racun bagi pikiran yang sebelumnya baik-baik saja.


"Terus apa yang kamu lakukan waktu itu?" tanyaku perlahan.
"Ya aku bilang Tara kuterapi juga di rumah. Aku stimulasi di rumah."
"Aku juga udah resign sejak setahun aku di Malaysia"
"Dua kali seminggu Tara di terapi. "

"Kenapa gak kamu bilang apa yang udah kamu lakukan selama ini? "
"Udah Ra. Udah semua. "
"Tapi ya,  mereka gak mau dengar. "

Mungkin, bukan tidak mau.
Mungkin, sebagian orang lebih suka menghakimi tanpa sadar.
Mungkin, sebagian kita lebih sennag bicara, bicara, bicara,  dan bicara. Tanpa melihat perasaan orang yang diajak bicara.

Mungkin, semua itu bukan tentang baper dan kebaperan.
Bukan tentang hatinya yang terlalu sensitif.
Bukan tentang membela diri.
Mungkin, semua itu tentang memori, kilasan masa lalu. Yang menggelegak meminta keluar, padahal selama ini telah diupayakan untuk sembunyi dalam suatu ruangan didalam hati.




Sounds familiar?

Mau marah?
Misuh?
Gebrak meja?

Nope!
Kami biasanya hanya diam saat tak sanggup lagi mendengar.
Kami hanya memalingkan wajah saat hati kami terluka
Kami hanya sanggup menunduk kala usaha kami diremehkan

Kami hanya menghela nafas saat buah hati yang dengan segenap tenaga, biaya,  dan usaha kami upayakan untuk menjadi "normal" dikatakan ini dan itu.

Tidakkah mereka lihat bagaimana kami berjuang.
Tidakkah mereka merasa bahwa kami juga ingin memiliki kehidupan yang sempurna.
Tidakkah mereka mengerti, kami berusaha untuk kuat, tidak merasa paling menyedihkan dan paling menderita.

Kami juga berupaya sejajar dengan mereka yang punya kehidupan normal
Kami juga berusaha tegar
Kami juga tak ingin dikasihani
Kami menerima takdir ini dengan segenap hati, sepenuh penerimaan,  dan dengan kelapangan dada.

Dengar kalimat seperti itu,  biasanya kita akan berada di dua pilihan. Menerima ke dalam hati,  tersenyum kecut, menyerapnya ke dalam pikiran. Pulang ke rumah, lalu bersedih,  marah, dan berakhir dengan menyalahkan diri sendiri.  Paling parah, menjadi tidak percaya diri,  minder tingkat tinggi.

Atau menolak,  mengatakan pembelaan sekuat tenaga. Kalau perlu kata-katai balik. Manusia punya sikap defense yang baik,  yang akan dikeluarkan pada saat yang diperlukan.


Parahnya. Setelah berbasa-basi,  mengungkapkan keprihatinan. Muncul kalimat-kalimat ajaib "yang tanpa disadari menjadi paku dan racun.
Berapa banyak reuni, silaturahmi, buka puasa bersama,  dan pertemuan lainnya?
Berapa banyak kalimat unfaedah itu muncul ke permukaan dan meninggalkan bekas luka yang dalam?
Ini bukan tentang baper dan terlalu sensitif.
Ini tentang empati, keikhlasan,  dan support.


Bertahun-tahun Milea berjuang untuk Tara. Mengendapkan mimpi-mimpinya. Mengusahakan yang terbaik untuk Tara. Terapi, stimulasi, pengobatan, diet makanan. Semua! Dan diruntuhkan hanya dalam satu pertemuan yang tidak sampai tiga jam.

Berapa banyak Milea Milea lainnya yang mengalami hal-hal semacam ini?


Ah... Mereka hanya bercanda saja,  pikirku.

Lalu aku ingat,  bagaimana candaan, basa-basi,  terasa menjadi bullyan, perundungan.
Hingga menyebabkan orang tua dari anak-anak istimewa ini tidak percaya diri, bersedih dengan usaha keras yang selama ini mereka bangun. Cemas dan khawatir. Stres berkepanjangan,  ditambah teracuni obrolan unfaedah semacam tadi. Dan yang paling parah adalah mengalami depresi.
Hanya karena kalimat-kalimat unfaedah itu.

Bukankah, jika orang tua anak istimewa ini mengalami depresi. mereka-mereka yang bicara basa-basi itu tidak akan mengulurkan tangan mengasuh anak-anak kami?


Ah... Aku kembali introspeksi diri. Pada hatiku, pada mulutku, pada pikiranku sendiri. Bukankah aku juga mungkin sering begitu? Mungkin pada orang lain yang ketemui?
Pada teman yang punya anak normal?
Pada teman-teman, saudara, orang tua?
Pada orang asing yang sempat mengobrol sejenak. Di rumah sakit, di kampus, di bank, dimana-mana?
Mungkin, para orang tua kepada anaknya. Kakak kepada adiknya. Pada kerabat,  sahabat, rekan kerja,  tetangga,  asisten rumah tangga, tukang sayur?
Lihatlah,  aku mulai meracau.


Kepulangan Milea hari itu mengajarkanku bahwa sebenarnya masing-masing dari kita punya pilihan. Ingin menjadi paku atau racun?
Menjadi orang yang menggembosi semangat. Ataukah menjadi orang yang meracuni pikiran positif yang diupayakan untuk selalu tumbuh setiap hari.
Semua tergantung dari hati, pikiran,  dan mulutku.

Hari ini aku bersyukur. Keluarga besarku, kerabat dan teman-temanku bisa menerima "keiistimewaan" Musa. Menggenggam tanganku erat. Mengatakan semua akan baik-baik saja.
Meyakinkanku bahwa Musa akan menjadi anak yang hebat.
Menguatkan semangat kami, orang tuanya.
Mendukung kami untuk kuat,  yang terkadang lemas karena pikiran-pikiran kami sendiri.

Sungguh, tidak mudah menjadi Milea.
Semoga tidak akan ada Milea-Milea lain yang mengalami seperti dirinya.

Tetaplah tegar Milea sayang, karena Tara membutuhkanmu lebih dari siapapun.

Salam hangat,
Dira.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES