Sunday, February 4, 2018

Kami Hanya Manusia Biasa Seperti Orang Tua Lainnya





Menjadi orang tua yang memiliki anak ABK adalah amanah Allah yang harus kami terima.

Beratkah?

Jangan ditanya.

Saya,  pernah menangis tak henti-henti saat anak saya menuangkan sop keatas lauk yang sudah saya masak sejak pagi. Saya juga masih sering menangis saat anak saya dikatakan "nakal dan aneh". Saya juga merasakan marah dan sedih saat dikatakan sebagai orang tua yang tidak mengajarkan anaknya etika dan sopan santun. Saya lelah dengan stigma yang merendahkan anak ABK. Saya juga khawatir dengan masa depannya.

Saya juga seperti manusia biasa seperti yang lainnya.




Kami memutuskan berpindah provinsi demi  berkejaran dengan waktu,  mengejar tumbuh kembangnya di masa masa golden age, mengunjungi banyak dokter spesialis anak, mengantar dan mendampingi ratusan kali sesi terapi,  hingga mempersiapkan diri mendengar diagnosa setiap kali evaluasi,  sejujurnya sangat melelahkan.

 Emosi naik dan turun, marah lalu sedih, sedih sekali. Suami saya mungkin sampai detik ini sudah bosan dengan pertanyaan saya,  "Jadi anak kita itu ABK?". Jangan ditanya bagaimana kami memohon dalam doa. Allah berhak memilih kami, bukan?

Ada suatu masa saya menghilang dari kehidupan media sosial,  keluar dari berbagai macam grup Whatsapp dan telegram,  menghapus facebook lama dan membuat facebook baru - mengadd teman yang sama sekali baru kenal, semua karena kelelahan yang teramat sangat. Lelah dengan diri sendiri,  itu lebih menakutkan dan menjengkelkan.

Sampai seperti itu?
Iya... Sampai seperti itu! I was being the Baper's Mom ever ๐Ÿ˜‚.

source: pexels.com


Dua tahun ini terasa sekali bagaimana sesaknya menerima informasi masukan dan saran,  sementara sang pemberi usul tak mengerti apa saja yang telah saya-kami lakukan untuk perkembangan buah hati saya.
Saya 24 jam bersama putra saya. Saya mengajukan cuti bekerja untuk mendampinginya terapi, menjaganya di rumah, mengajaknya ke alam terbuka,  mengantarnya sekolah. Sementara suami berusaha menyediakan dana yang tidak sedikit (tentu saja)  untuk terapi dan konsultasi dengan dokter.


Saya-kami rela mengorbankan apa saja untuknya. Bukankah semua orang tua begitu? Baik orang tua dengan anak yang "normal" maupun orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.

source: pexels.com

Berbagai grup untuk parenting ABK baik di media sosial seperti Facebook, Whatsapp, saya ikuti. Disana saya bisa membuka mata masih banyak ketegaran, keikhlasan,  dan kekuatan lain yang jauh lebih  tinggi daripada yang saya-kami miliki. Orang tua dari anak Cerebal Palsy, Autisme, Down Syndrome, dll membuat saya sadar, mereka sungguh luar biasa hati dan jiwanya. Dari mereka lah saya belajar berani, tegar, dan ikhlas. Dulu saya hanya manusia cengeng dan penakut menghadapi kenyataan. 

Thanks to Timothy Archibald, Cici Grace Amelia, Mama Lukman, Mbak Ferna Anindhita,  dan Mbak Hanny Dewanti, kalian membuat saya bangun dari keterpurukan. 


Berdasarkan pengalaman itulah, saya berusaha mendampingi dan mendengarkan cerita orang tua dari anak ABK,  sekedar bercerita dan tukar pikiran. Saya senang melihat mata mereka berkilat bahagia menceritakan perkembangan  putra-putri spesialnya.  Saya sedih ketika mereka sharing tentang pembullyan, ketidak terimaan lingkungan sekitar, penolakan sekolah,  dan hal lainnya. Tak sedikit yang mengalaminya justru dari lingkungan keluarga besar.


Dengan banyaknya sharing di grup komunitas beberapa hal yang sering dialami orang tua dari anak ABK :


MENJUDGE ORANG TUA


"Kok bisa jadi begini, memangnya dulu waktu hamil makan apa? "
"pasti dulunya gak dirawat ya?"
"Pasti Ibunya dulu kerja ya? "
"Oh pasti kamu stres yaa waktu hamil, anakmu jadi begitu sekarang. Makanya santai aja waktu hamil"

Pernah membaca komentar seperti itu di status orang lain?
Oh God, please be wise! Menyandang amanah sebagai orang tua anak ABK saja, batin sudah perlu diupgrade ke level selanjutnya, tak perlu menambah komentar yang sekiranya membuat down!

Apapun kondisi putra-putrinya, tak sepatutnya menghakimi orang tuanya begini begitu bukan?



MELABELI ANAK ABK "NAKAL DAN ANEH"

"Pantesan nakal,  anak ABK rupanya. "
"Aneh yaa..."
"Amit-amit jabang bayi,  naudzubillah hamindzalik"

Oh percayalah, kalimat diatas bukan hanya ada di sinetron Indonesia. Melabeli anak normal nakal saja, orang tuanya pasti sakit hati. Apalagi kami yang harus ekstra kerja keras menjaga anak-anak saat berada di luar rumah.

Maka jangan heran, banyak orang tua dari anak ABK akan selalu berada di sisi anaknya jika sedang bermain atau bersosialisasi di luar rumah. They will take care of them like a diamond. *asah berlian*.






MENGATAKAN ORANG TUA DARI ANAK ABK TIDAK MENGAJARKAN ETIKA DAN SOPAN SANTUN

"Tolong anaknya diajari sopan santun ya"
"Dirumah dimanja ya?  Gak pernah diajarin sopan santun"
"Kok anakmu sombong banget yaa. Diajarin etika donk kalo ketemu orang lain"

Maaf madam, tahu rasanya tangan terbelah pisau?  Perasaan kami sepuluh kali lipat sakitnya,  kala mendengar kata-kata itu.

Semua orang tua pasti mengajarkan sopan santun, tak terkecuali orang tua dengan anak ABK. Mulai dari bersalaman, hingga duduk manis di meja makan restoran. Trust me, they do it so many times. Jangan pernah berpikir anak ABK tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuanya. 


TERAPINYA TAK ADA PERKEMBANGAN. 

"Kok terapinya gak ada perkembangan yaa? "
"Perasaan udah lama terapi, kok gak berubah-berubah? "
"Kayaknya harus pindah tempat terapi, soalnya gak ada perubahan ya? "

Alih-alih menanyakan bagaimana  kemajuan perkembangan putra rekannya, justru malah menjatuhkan semangat orang tua ABK. 

Tahukah bagaimana beratnya menghadapi sesi terapi, mengantar mereka mulai berangkat dan pulang bergumul dengan kemacetan jalanan. Menyiapkan dana terapi, konsultasi, suplemen yang setahunnya bisa dipakai membeli motor bahkan mobil. Belum lagi setiap selesai konsultasi,  kami tak bisa tidur nyenyak, berpikir dan merencanakan banyak hal untuk terapi stimulasi kedepannya. Menata batin kami sendiri itu saja tidak mudah.  Hingga membaca banyak jurnal ilmiah bahasa Inggris dan beraneka buku tentang "ciri khas" anak kami, sampai kami mual. 



Ini kalimat yang paling membuat saya harus menarik nafas panjang. Yang paling berat dihadapi adalah omongan semacam ini, daripada menghadapi anak saya yang sedang tantrum. Percayalah, tak mudah menjadi kami.

They have been sacrifice a lot,  so dont be rude.


MEMBANDINGKAN ANAK ABK DENGAN ABK LAINNYA

"Si Adek kok cepat ya perkembangannya. Kok anakmu masih sama saja?"
"Si Itu sudah bisa ngomong, kok anakmu masih begini aja?"
"Anakmu kok masih begitu,  Si Fulan sudah bisa sekolah lhoh"


Saya,  juga iri (dalam arti yang baik)  dengan mereka yang bisa makan bakso bersama anaknya sambil bercerita dan tertawa bersama. Dengan mereka yang bisa berjalan dengan tenang dengan anaknya sambil menunjuk mainan atau apa saja di sekitarnya. Sementara saya masih gemetaran kala harus pergi berdua saja dengan anak saya.

Saya rindu berbicara dengannya, tertawa bersama,  saling bercakap-cakap membicarakan apa saja.
Saya rindu mendengar dia memanggil saya Mama.

Tentu saja saya senang melihat anak ABK lainnya mengalami perkembangan pesat. Tapi percayalah, kata-kata seperti itu hanya akan menyakitkan hati. Percayalah, orang tua dari anak ABK pasti berusaha keras dengan caranya masing-masing karena setiap anak ABK itu unik.



Dari sekian banyak hal yang kami alami, tentu saja banyak hikmah yang akhirnya kami pelajari. Ternyata tidak semua paham mengenai anak ABK, sehingga terkadang sangat perlu mengedukasi orang lain, mengapa anak kami berbeda.


Bahwa orang tua anak ABK juga manusia biasa, yang bisa baper, lelah,  dan merasakan stres, sama seperti orang tua anak normal lainnya. Terkadang stok sabar justru bukan menghadapi si bocah,  malah ketika berhadapan dengan orang lain hehehe. Kami hanya manusia biasa seperti orang tua lainnya.

Saya, kami masih sering memberitahukan kerabat atau rekan yang bertemu putra kami tentang "kelebihannya" itu. Karena putra kami masih cuek dengan sekitarnya, terkadang dianggap sombong.

Okay readers,  semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit gambaran, bagaimana perasaan kami  orang tua dari anak ABK. Tulisan ini tidak bersifat mengeneralisasi yaa, hanya sebagian kecil yang merasakan yang kami alami selama ini.

Ketika Allah sudah memberikan amanah,  insyaallah akan kami jalani dengan ikhtiar dan harapan besar untuk buah hati kami.


Happy sharing and happy blogging ❤







36 comments:

  1. Saya termasuk ke golongan ABK dan saya alhamdulillah diberi keluarga yang luar biasa. Sehingga saya bisa menjalani hidup baik-baik saja. Semangat selalu mama dira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Tikha hebaaattt!! Semoga kami bisa seperti keluarga Mbak Tikha yaa, semangat insyaallah ๐Ÿ˜Š

      Delete
  2. Saya hanya bisa berkata bahwa mama Dira hebat, selalu semangat ya dan menginspirasi kami para mama๐Ÿ˜˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Dewi Sahabat Blogger, semoga yaa Mbak ๐Ÿ˜˜

      Delete
  3. Makasih mba, jadi pelajaran buat saya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat emak galau yaa Mbak Feli ๐Ÿ˜…

      Delete
  4. Anak pertama saya juga istimewa Mbak..meski masih ringan kategori ABKnya.
    Tetap semangat dan terus bersabar, Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan.

    Peluuk saaayang buat Mbak Dira:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga saya bisa sehebat Mbak Dian *peluukk balik Mama hebat*

      Delete
  5. Dira hebat..semoga selalu diberikan hati yang luas yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enggak hebat Kak Syafia, masih cengeng. Aamiin semoga diberi hati yang luas. Indah sekali doanya ๐Ÿ˜Š

      Delete
  6. Sepertinya anak saudara saya mengalami hal yang sama. Tetapi 'gak tau kenapa, yang saya lihat sewaktu menginap di rumahnya, seringkali anak mengalami kekerasan, dipukul dibentak seperti sudah biasa dilakukan. Miris dan sedih. Karena gak tahan dengan hal perlakuan tersebut, akhirnya saya mempercepat kepulangan kami, tanpa tau mesti berbuat apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih suka nangis kalau anak saya bandel Mbak Kun, karena kadang dimarahi pun dia gak ngerti Mbak. Malah tertawa hihiii.

      Delete
  7. Mba Dira adalah orangtua spesial yg dipilih Allah, mungkin saya ga akan sekuat & sehebat Mba. Tetap semangat Mba & percayalah akan indah pada waktunya.

    ReplyDelete
  8. Peluk erat, Mbak Dira. Kadang orang di luar sana bermaksud baik dan berbasa basi, tapi lupa menempatkan diri pada posisi lawan bicara.

    ReplyDelete
  9. Mbak Dira, selalulah menulis untuk meng-edukasi orang2 di luar sana yang "belum" mengerti. Saya yang tidak mengalami seperti mbak Dira saja kadang-kadang nangis saat anak kok tidak seperti yang saya harapkan. Meski normal, kebiasaan tdr anak saya berbeda dg yang lain. Dari bayi sampai sekarang masih tidur dini hari.
    Yang saya tahu, setiap orang tua punya "pergulatan" nya masing-masing. Dan kita, org tua, semakin kuat jika kita tetap berkumpul dan saling menguatkan.

    ReplyDelete
  10. SubhanAllah, membaca ini, membuat saya merasa sangat cengeng, terimakasih sharingnya mbak dira, semoga selalu diberi kekuatan serta kelapangan hati dan dan juga rezeki yang melimpah Aamiin


    ReplyDelete
  11. Peluk mak, mereka yang dikaruniai ABK adalah wanita hebat nan mulia, salam sama dedek ya

    ReplyDelete
  12. Allah memilih mom dira menjadi orang tua dari anak yang spesial,tetaplah kuat n tegar mom, krn balasannya surga. Melalui mereka Allah berikan pahala yg besar buat mom dira. Peluk๐Ÿ˜‡

    ReplyDelete
  13. peluk mba dira, tetap semangat dan menginspirasi banyak orang tua lainnya. Tuhan memberi kekuatan, semangat, dan rejeki lebih banyak lagi.

    ReplyDelete
  14. Peluk mba Dira, semua orangtua adalah istimewa. Seperti setiap anak, baik itu ABK atau tidak.
    Semangat terus ya mbak, untuk Musa :*

    ReplyDelete
  15. Anak adalah anugrah. Apapun keadaan anak Kita, anak tetaplah tanggung jawab ortunya.

    ReplyDelete
  16. Semangat..semangat, bagaimana pun anak adalah titipanNya yang dilahirkan dengan keunikan dan keistimewaannya sendiri. Laaf Mama Diraa!-

    ReplyDelete
  17. Selalu semangat ya mama Dira. Ini bermanfaat banget utk aku yg blm jadi orng tua.

    ReplyDelete
  18. Selalu takjub sama ibu-ibu yang mempunyai ABK. Mereka laksana permata yang terus diasah setiap saat. Hingga terus dan tambah mengkilap.

    ReplyDelete
  19. semangat ya mbak :) turut mendukung, semoga sehat selalu :)

    ReplyDelete
  20. Mbaak, setelah baca ini, aku fikir bahwa kamu adalah the strongest mom ever. Kalau aku jadi dirimu, belum tentu aku bisa.

    ReplyDelete
  21. tiap baca tulisan tentang mengasuh anak, aku percaya kamu pun udah berusaha untuk menjadi ortu yang terbaik.

    ReplyDelete
  22. Sulit sekali memang yaa, mba..memaklumi omongan ((yang kita anggap)) negatif.
    In syaa Allah pahalanya sudah disiapkan di akhirat kelak.
    Yakin.
    Allah - lah sebaik-baik Pemberi Balasan.

    ((love you, mba Dira))

    ReplyDelete
  23. Peluk Mbak Dira,
    Buat support system dengan kumpulan orang-orang positif. Anggap saja angin lalu cibiran atau judgment. Terkadang pertanyaan2 itu tak perlu dijawab.

    ReplyDelete
  24. Semangat mbaaak :) God gives special children to very special parents. Aku salut sama ketabahan dan kegigihan orang tua dengan anak ABK. Lots of love for your family mbak.

    ReplyDelete
  25. Saya jg penah mengalami masa2 baper gak aktif di medsos dll saat tumbang anak bermasalah. ALhamdulillah skrng dah move on ya mbk :D Peluk Mbak Dira Indi yg kuat. Btw iya tak perlu dibanding2kan anak2 udah istimewa semua ya mbak TFS

    ReplyDelete
  26. Masya Allah, ibu yang hebat. Mohon maaf kalau ada kata2 yg kurang berkenan ya mbak, semata-mata karena ketidaktahuan bagaimana mengekspresikan diri dg baik ke mama2 yg memiliki putra & putri ABK. Semoga Allah memberikan kesabaran, kesehatan dan rejeki berlimpah. Aamin.

    ReplyDelete
  27. Ortu dgn ABK tentunya adh ortu yang hebat, karena Allah tidak pernah membebani hambanya dengan sesuatu yang tidak bisa dilaluinya.
    Keep setrong, mamak!

    ReplyDelete
  28. Ada kerabatku yang memiliki anak ABK. Memang sih kadang orang di luar sana menilai macam-macam. Tapi yang berkesan adalah kesabaran dan keikhlasan merawatnya. Juga tidak pernah menyembunyikan anaknya. Kalau pergi ya diajak dan selalu dengan pengawasan ekstra.

    ReplyDelete
  29. Mba Diraaa, semangaaaat mbaa.. Peluk erat yaa.. Pasti berat jalaninnya, tapi pasti kuat juga menghadapinya.. Apalagi dengan segala stigma orang-orang yang gak paham.. Aku punya keponakan yang ABK.. Aku salut banget sama sepupuku.. Anaknya dua, dan dua-duanya ABK.. Berat ngeliatnya, tapi mereka ikhlas dan sabar gak ada batas keliatannya.. :') Semangat mbaaa..

    ReplyDelete
  30. Kebetulan punya adik yg ABK dan mama ninggalin duluan, jadi sejak aku masih sekolah pun lumayan banyak waktu buat ngurusin adik.

    Aku lumayan ngerti yg mba rasain,meskipun aku belum jadi ibu. Kuat selalu ya mba :')

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. Mohon tidak memberikan link hidup ya ๐Ÿ˜Š.

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES