Tuesday, April 25, 2017

Hadapi dengan berani💘

Allah memberikan ujian..insyaallah kami pasti bisa melewatinya.
Ada artikel menarik dari seorang Kawan di fB..saya copast mungkin dapat membantu bagi yang membutuhkan.





----------------------------------------------------




Menghadapi Stress dan tekanan bagi Orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Oleh: Aloysius Hanung Rumekso
Menjadi orang tua bagi anak berkebutuhan khusus kadang membuat kita kehilangan jati diri dan berubah menjadi orang lain. Banyak hal yang sering kita pertaruhkan demi buah hati kita melewati masa-masa sulitnya untuk bisa menghadapi masa depannya. Tak jarang kita terjebak dalam situasi sulit secara fisik, emosional dan finansial.
Melewati ini semua kita menjadi sangat stress dan depresi terkungkung dalam menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan dalam membesarkan ABK kita.
Berikut gambaran tahapan Stress yang sering dihadapi oleh orang tua ABK :
1. Denial (Penolakan)
Tahapan dimana kita tidak menerima dan menolak bahwa anak kita lahir tidak seperti anak-anak seusianya.
2. Anger (Marah)
Tahap dimana ketika kita sudah mulai bisa menerima dan mengakui, namun sering kali tanpa disasari kita dibayangi Oleh perasaan marah. Marah pada diri sendiri, pasangan kita, dokter, therapist, lingkungan kita atau bahkan marah kepada Tuhan. Why me God?
3. Bargaining (Tawar-menawar)
Tahap dimana kita sudah mulai berfikir  untuk menerima keberadaannya,  namun dengan berbagai dalih. Baiklah asal anak ini tdk sakit-sakitan atau asalkan anak ini bisa mengurus dirinya sendiri, dan berbagai macam sikap pengalihan.
4. Depression (Depresi)
Tahap ketika tawar menawar tidak berlaku lagi, maka orang tua menjadi stress dan depresi.
5. Acceptence (Penerimaan)
Pada tahap ini, orang tua sudah mulai bisa menerima dan mulai berdamai dengan kondisi yang ada. Namun kadang kita terjebak dengan situasi, menerima secara pesimis atau menerima secara optimis.
Saya mencoba untuk merangkum bagaimana sikap kita sebagai sebagai orang tua ABK dalam menghadapi stress dan tekanan yang membuat kita lebih ringan dalam memperjuangkan hak hidup ABK kita secara Psikologis :
1. Kesabaran yang berlipat.
Menjadi orang tua biasa tidaklah mudah. Dituntut kesipan fisik dan Psikologis yang matang. Kita akan diperhadapkan pd pertanggungjawaban yg lebih rumit. Bukan hanya menyangkut kebutuhan secara materiil namun lebih dari itu. Jadi, menjadi orang tua adalah pekerjaan yang sulit. Apalagi menjadi orang tua ABK. Untuk itu diperlukan kesabaran dalam menghadapi tantangan dari hari ke hari. Sebagai orang tua ABK kita ibarat mengikuti lomba marathon, tidak ada istilah istirahat, kita harus makan-minum sambil berlari. Tapi marathon kita tidak pernah berujung, jadi jangan berfipikir untuk menang, tapi berlarilah hingga mencapai garis finish.
2. Kita tidak sendirian.
Besarkan hati bahwa banyak orang tua lain yang juga memiliki masalah yang sama dgn kita. Carilah dukungan sosial dan buat jejaring. Sharing, berbagi pengalaman dan trik dalam menghadapi berbagai masalah akan membuat kita merasa lebih kuat dan nyaman secara psikologis.
3. Kita adalah Superhero.
Yakinkan diri bahwa sebagai orang tua ABK, apa yg kita kerjakan adalah hebat. Ibarat Superhero kita disanggupkan mengatasi semua permasalahan anak kita. Kita jauh lebih tau dari siapapun. Misalnya bagaimana mengatasi anak kita saat Tantrum atau kejang, dsb. Dan kita bisa menjadi apa saja. Kita adalah therapist, dokter, perawat, guru dan teman bagi anak ABK kita.
4. Kita bukanlah manusia yg sempurna.
Sebagai orang tua ABK seringkali kita dihadapkan pd suatu pilihan yg sulit. Namun kita dituntut utk segera mengambil keputusan. Lakukan dan ambil keputusan yg terbaik dan jangan menengok ke belakang. Yakinlah bahwa apapun yg kita ambil adalah suatu keputusan yg terbaik. Memang kita tidak bisa selalu benar. Tidak ada manusia yg sempurna, kita bisa saja salah. Namun terus maju dan jangan pernah menyesali apa yg pernah kita putuskan. Move on dan terus pandang ke depan.
5. Memaafkan diri sendiri.
Jangan selalu membawa rasa bersalah. Hal ini tdk akan membuat kita lbh baik. Tidak ada jawaban yang benar utk setiap keputusan yang sulit. Memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri membuat kita akan jauh lebih ringan dalam melangkah ke depan utk anak kita.
6. Percaya pada instink kita.
Kita jauh lbh mengerti ttg anak ABK kita. Ketika kita merasa tdk mudah utk dimengerti oleh profesional (dokter, therapist, consultant atau guru) pergilah ke ahli lain utk mendapatkan second opinion. Jangan pernah merasa takut utk berjuang bagi ABK kita. Jika mereka mungkin ahli dibidangnya,  kitapun adalah ahli dalam memahami anak kita.
7. Therapy adalah bermain dan bermain adalah therapy.
Jangan biarkan anak kita tersiksa oleh therapy, tapi biarkanlah mereka merasa bahwa therapy adalah bermain. Jd pastikan bahwa anak menikmati sesi therapy dengan caranya sendiri. Waspadai ketika anak tdk tertarik atau respon dengan therapy yang kita pilihkan. Mungkin ada sesuatu yg salah disana.
8. Rayakan hal-hal kecil.
Rayakan hal-hal yang mampu dicapai anak ABK kita meskipun mungkin suatu hal yang kecil bagi anak non-ABK lainnya.
Sharingkan hal-hal pencapaian tersebut kepada orang-orang yang kita cintai dan mengasihi anak ABK kita. Jangan mudah terprovokasi dengan orang-orang yang tdk memahami ABK kita.
9. Jangan membanding-bandingkan.
Secara umum setiap anak berbeda satu dengan yang lainnya. Begitu juga tantangan dan pertumbuhan yg dilaluinya. Mereka akan tumbuh dengan kecepatan masing-masing jadi jangan pernah membandingkan ABK kita dengan ABK lainnya. Jangan pula membanding-bandingkan apa yang dilakukan orang tua lain dengan ABK-nya.
10. Luangkan waktu untuk bermain dengan anak.
Nikmati kebersamaan dengan ABK kita. Sesibuk apapun kita, sebaiknya luangkan waktu utk peran kita sebagai orang tua untuk bermain dan menikmati kebersamaan.  Tidak ada kualitas tanpa kuantitas.
11. Jangan pernah kehilangan jati diri.
Jangan membuat label sebagai "orang tua ABK" sebagai satu-satunya jatidiri kita.  Kadang kita juga harus memiliki jatidiri kita sendiri. Fokuslah pada hobi dan pekerjaan kita juga. Kita berhak untuk menikmati hidup kita.
12. Perhatikan keutuhan perkawinan kita.
Mempertahankan  perkawinan adalah suatu perjuangan, apalagi jika kita memiliki ABK.
Berikan waktu untuk pasangan kita dan perjuangkan perkawinan adalah cara yg bijak dan bertanggung jawab atas ABK kita.
13. Peliharalah rasa humor dan jangan terlalu sensitif.
Lihatlah setiap masalah yang terjadi dengan cara pandang yg lebih ringan. Jangan terlalu sensitif dan terprovokasi secara emosional dengan apa yg dikatakan orang lain. Karena tidak ada yang menyakiti diri kita kecuali diri kita sendiri.
14. Kita berhak utk bahagia dan diperhatikan.
Selama ini kita sudah terlalu banyak untuk memperhatikan dan merawatnya ABK kita. Ambil waktu ("me time") karena kita juga berhak untuk mendapat perhatian dan merasa bahagia. Mintalah waktu untuk diri sendiri dan nikmatilah....
Semoga tips diatas membantu kita untuk terbebas dari stress dan kebosanan dalam memperjuangkan hak hidup ABK kita yang tidak pernah berujung.
Semoga membantu....
Source:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208125141638049&id=1585825645


Solo punya cerita

punya adek hobby makan...

love the design



another capture of cappucino milk shake and the water







Sunday, April 23, 2017

Deteksi dini pada Anak Autisme


Info bagi yang membutuhkan
Deteksi dini pada Anak Autisme
oleh: Alloysius Hanung Rumekso
Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan, dan angka kejadian anak autistik masih terus meningkat diseluruh dunia. Saat ini sering timbul kekuatiran para orang tua jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim, kemudian mengkaitkannya dengan kasus Autisme.
Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah, atau bahkan terjadi overdiagnosis. Hal tersebut tentu saja sangat merugikan perkembangan anak
yang lebih luas dan berat, sehingga mempengaruhi anak secara mendalam.
Pada kasus anak penyandang Autisme ada 3 ketidakseimbangan atau gangguan perkembangan dasar yang mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku. Namun kadang disertai dengan ketidakseimbangan atau gangguan perkembangan penyerta pada area Senso-motoriknya.
Karakteristik gangguan pada kasus Autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun , secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2–5 tahun. Pada beberapa kasus, gejala terlihat pada masa sekolah setelah anak memasuki lingkuangan sosial yang lebih luas. Pada kasus ini biasanya adalah kasus Autisme dengan spectrum yang lebih ringan (mild Autism / Spt : Asperger's Syndrome). Berdasarkan penelitian, kasus Autisme lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan (4:1). Beberapa test untuk mendeteksi secara dini kecurigaan anak dengan Spectrum Autism hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas. Gejala autisme berbeda – beda dalam kuantitas dan kualitasnya, penyandang autisme infantil klasik (faktor genetik) mungkin memperlihatkan gejala dalam derajat yang lebih berat (ASD, CCD atau Ret's Dyndrome), tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja tampak pada beberapa kasus Autisme yang lebih ringan hingga sedang (Asperger’s Syndrome atau PDD-NOS). Kesulitan yang timbul, sebagian dari gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.
Berikut beberapa karakteristik gejala pada anak yang mengarah pada gangguan autisme yang patut dicurigai:
Gangguan atau ketidakseimbangan pada area bahasa dan komunikasi, meliputi :
1. Terlihat adanya gangguan pada area bahasa dan komunikasi, baik verbal maupun non verbal secara spesifik.
2. Keterlambatan bicara atau tidak dapat berbicara.
3. Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai Echolalia, Mumbling, Babbling bahkan Humming.
4. Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata atau kalimat dalam konteks yang sesuai pada rentang waktu 1 - 3 tahun pertama.
5. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi yang efektif.
6. Meniru atau membeo (Echolalia) , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada, maupun kata – katanya tanpa mengerti makna dan artinya.
7. Kadang bicara monoton, kaku (rigid) seperti robot atau pola infleksi tertentu.
8. Mimik wajah dan ekspresi yang datar, terkesan tuli saat dipanggil, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat.
Ketidakseimbangan atau Gangguan perkembangan pada area interaksi sosial meliputi :
1. Menolak atau menghindar untuk bertatap muka (kontak mata).
2. Tidak suka dan menolak bila dipeluk atau mendapatkan sentuhan atau sebaliknya.
3. Tidak ada usaha atau inisiatif untuk melakukan interaksi dan kontak sosial dengan orang lain.
4. Menggunakan gesture atau bahasa tubuh bila menginginkan sesuatu (menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya).
5. Kesulitan untuk berinteraksi dalam group. Bila didekati untuk bermain anak justru menjauh.
6. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.
7. Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata dan intens pada anak sebaya. Pada kasus yang lebih berat, ini berlaku terhadap orang tuanya. Tidak tertarik dan dipengaruhi oleh kehadiran dan atau stimulasi orang tua.
Ketidakseimbangan atau gangguan perkembangan pada area perilaku, meliputi :
1. Tidak mengerti cara bermain atau bermain dengan janggal dan aneh.
2. Tidak suka dan mengerti aturan main dan cara bermain.
3. Bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang.
4. Terikat dengan suatu permainan tertentu. Bila sudah senang satu mainan tidak tertarik permainan yang lebih variatif.
5. Kesulitan memahami konsep bermain secara paralel (bergiliran) dan interaktif.
6. Keterpakuan pada benda bergerak dan berputar, seperti : roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama), baling-baling atau sesuatu yang berputar.
7. Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana.
8. Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, atau hal lain secara detail dan melekat.
9. Perilaku ritualistik sering terjadi pada anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang atau sebaliknya.
10. Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya.
11. Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata.
12. Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif.
13. Pada kasus tertentu munculnya perilaku manipulatif dan injury, menyakiti diri sendiri dan atau orang lain.
Kadang disertai ketidakseimbangan atau gangguan penyerta dalam persepsi sensoris dan senso-motorik, meliputi :
1. Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja.
2. Sensitif terhadap suara tertentu, seperti : Blender, penyedot debu dan sejenisnya.
3. Tidak menyukai rabaan dan pelukan atau sebaliknya. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan.
4. Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu.
5. Adanya keterlambatan dalam area senso-motorik yang terlihat secara spesifik pada area kekuatan, keseimbangan, koordinasi dan lateralisasi fungsi motoriknya.
6. Dapat juga anak terlalu diam dan tidak responsif, gangguan pada area tactile (perabaan), dan ambang rasa sakit.
Jika mencurigai adanya satu atau lebih gejala di atas pada anak kita, berdasarkan ciri-ciri tersebut jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Tetapi jangan juga cepat – cepat menyatakan bahwa anak kita adalah penyandang Autisme.
Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu team dokter dan profesional terkait yang berpengalaman, yang terdiri dari : dokter anak , ahli saraf anak, psikolog, ahli tumbuh kembang, ahli dietary, Speech Pathologist dan team therapist.
Team tersebut bertanggung jawab dalam menegakan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan dan tindaklanjut untuk penanganan yang terbaik.
Semoga bermanfaat....
Source:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208175811224757&id=1585825645

Monday, March 6, 2017

Persiapan PRA Sekolah Anak💟

Mengikuti seminar parenting bagi saya adalah suatu keharusan. Namun apa daya, dengan keterbatasan ruang gerak untuk bepergian, niat tersebut saya urungkan untuk sementara.
Belajar secara online dan membaca banyak buku, insyaallah akan sangat membantu mempelajari tumbuh kembang anak.
Salah satu pakar tumbuh kembang anak yang sering menjadi referensi ibu masa kini adalah dr. Kristiantini Dewi Sp.A. Berikut ini artikel yang saya dapatkan melalui group fb..semoga bermanfaat bagi ibu-ibu kekinian :)

Happy reading, Mom

Mommy's Musa
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ananda tersayang berusia  4 - 5thn
 (Usia Pra Sekolah), Ayah & Bunda sdh pasti mencarikan sekolah terbaik buat Ananda....tapi sdhkah di fahami apa saja yang harus di persiapkan apabila Ananda mau bersekolah? Ayo...kita fahami....

🎒🎓  BERMAIN SAMBIL BELAJAR
DI USIA PRA SEKOLAH

Sumber :
Ibu dr Kristiantini Dewi S.p.A
(Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia)

Buah hati yang semakin besar dan pintar sekarang menginjak usia
pra sekolah, apa yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi tumbuh kembangnya agar lebih optimal.

Apakah sudah saatnya anak kita sekolahkan?

Apakah sudah tepat jika kita ajarkan dan tuntut mereka untuk belajar baca tulis dan hitung?

Permainan apa saja yang menyenangkan namun memiliki nilai - nilai edukasi yang baik bagi mereka?

Di masa ini anak sudah menunjukkan berbagai kemauan dan kemampuan yang berkembang pesat.

Anak pra sekolah sudah mulai memahami berbagai aturan dan norma sosial dalam kehidupan sehari-hari dan juga mulai tertarik untuk mempelajari hal - hal pra akademis.

Namun, bukan berarti anak sudah bisa
dituntut untuk belajar dalam setting sekolah formal, di mana dia dituntut untuk duduk tenang dalam waktu lama, apalagi kemudian dituntut untuk mampu mencapai kemampuan akademis seperti membaca, menulis dan berhitung selayaknya anak usia sekolah.

Untuk mampu berkegiatan belajar di setting sekolah formal kelak - yakni di Sekolah Dasar, seorang anak harus dipersiapkan dengan cermat baik dalam segi KEMATANGAN PERILAKU..nya maupun KEMAMPUAN PRA AKADEMISNYA.


Apa saja yang perlu kita siapkan ?

🔺 PERSIAPAN KEMATANGAN PERILAKU

1. KEMANDIRIAN
2. PERILAKU
3. TANGGUNG JAWAB

Ananda perlu dilatih beberapa kemampuan diantaranya:

✔ Mampu mendengarkan instruksi lisan yang disampaikan dalam setting klasikal (bukan individual)

✔ Mampu menyimak instruksi lisan yang disampaikan dalam kondisi kelas yang mungkin agak bising.

✔ Mampu memahami instruksi lisan yang cukup panjang yang disampaikan oleh gurunya.

✔ mampu berkomunikasi fungsional.....
artinya sudah mampu menyampaikan keinginannya dan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, dengan sikap, bahasa tubuh, nada suara dan pemilihan istilah yang tepat sesuai usianya.

Hal ini penting untuk di cermati oleh orang tua, karena masih banyak anak usia pra sekolah yang belum mampu berkomunikasi fungsional, namun tidak disadari sebagai sesuatu yang penting untuk dikelola.

🔺 Padahal, KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK, merupakan syarat mutlak untuk seorang anak kelak bisa mengikuti kegiatan belajar di usia sekolah.

✔ Anak juga dilatih untuk mampu bersegera memulai suatu tugas yang diberikan.

✔ Di latih mampu untuk tetap fokus menuntaskan apa yang sedang dikerjakan.

✔ Dan akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya dengan kualitas yang baik, bukan asal-asalan.

Kemampuan tersebut di atas amat sangat penting dan merupakan modal bagi seorang anak untuk dapat berkegiatan di jenjang Sekolah Dasar kelak.

✔ Selain itu anak juga dilatih untuk semakin terampil untuk bermain dalam setting berkelompok di mana dalam setting ini terdapat berbagai dinamika, ada kesempatan bagi mereka untuk belajar saling berbagi, belajar untuk mengantri, belajar bergiliran, belajar meminjam dan mengembalikan dengan adab yang baik, belajar toleransi, belajar mengasihi dan berempati serta menghargai temannya yang lain.

✔ Kegiatan - kegiatan interaktif ini akan membangun kemampuan untuk memecahkan persoalan / konflik secara mandiri, tanpa perlu selalu membutuhkan intervensi dari orang dewasa di sekitarnya.

✔ Ajarkan mereka untuk terbiasa berperilaku santun, mengucapkan salam, meminta ijin sebelum melakukan sesuatu, meminta maaf yang tulus atas kesalahan yang dilakukan,
serta mengucapkan terimakasih kepada siapapun yang telah menolong / memberikan sesuatu kepada dirinya.

✔ Anak juga mulai di latih untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri, maka mereka sudah saatnya dituntut untuk mandiri mengurus keterampilan bina dirinya seperti mandi, makan minum, membereskan mainannya, dan sebagainya.
Maka sedikit demi sedikit ananda terpupuk rasa tanggung jawabnya. Karakter mandiri dan bertanggung jawab sangat diperlukan bagi ananda di usia sekolah kelak, karena mereka akan dituntut untuk mampu bertanggung jawab atas tugas-tugas / pekerjaan rumah yang diberikan, dan dituntut untuk mandiri mengerjakan tugas-tugas akademis tersebut.


🔺 MATERI PRA AKADEMIS

Di usia pra sekolah, anak belum perlu dituntut untuk mampu membaca, apalagi memahami bacaannya karena......
🔺 usia yang tepat bagi seorang anak untuk siap untuk belajar membaca adalah usia sekolah yaitu usia 7 tahun.

Namun, bukan berarti anak -  anak
pra sekolah sama sekali tidak diperkenankan untuk mengenal huruf ataupun angka.

Tentu saja, di usia 5 sampai 7 tahun anak sudah perlu kita PERSIAPKAN untuk kelak mampu belajar baca di usia 7 tahun.

Apa saja yang perlu kita persiapkan?

✔ Ananda dilatih untuk mampu mengenali dan menggambar berbagai bentuk sederhana seperti bulat, persegi, segitiga, setengah lingkaran, oval, garis lurus, garis miring, garis melengkung.

Bentuk bentuk ini adalah bentuk yang menjadi dasar bentuk huruf yang akan mereka pelajari kelak. Selain itu perhatikan juga bahwa mereka sudah harus terampil untuk.....
✔ memegang alat tulis mereka dengan teknik yang tepat sehingga guratan yang nampak di kertas tidak terlalu tebal atau pun terlalu tipis.

✔ Kenalkan ananda dengan berbagai huruf, baik nama hurufnya maupun bunyi dari huruf tersebut seperti halnya kita memperkenalkan binatang "sapi" dan bunyinya adalah "moooo....";
maka ada huruf yang bernama "be"
 (untuk huruf ‘b')
dan bunyinya adalah
/beh/.

Kenalkan mereka pada bentuk huruf ✔KECIL terlebih dahulu, bukan huruf besar.

✔ Selain mengenali bentuk, nama dan bunyi huruf, latih mereka untuk....

✔ mampu berkegiatan dengan URUTAN yang benar.
hal ini penting.

 ✔ Karena...dalam kegiatan menulis kata nantinya akan sangat di butuhkan kemampuan memahami URUTAN / KEMAMPUAN SIKUENS.

Misalnya.....
untuk bisa menulis kata "ibu", maka anak harus mampu mengingat bahwa susunan huruf yang akan ditulis adalah huruf pertama nya ‘i', huruf berikutnya ‘b' dan yang terakhir adalah huruf ‘u'.

✔ Melatih ananda mampu membedakan bunyi - bunyian dari huruf, sebelumnya bisa kita latih mereka untuk membedakan berbagai jenis bunyi-bunyian, misalnya....

- membedakan bunyi bola yang ditendang dengan bunyi uang koin yang dijatuhkan ke lantai.

- Mereka juga dilatih untuk mengidentifikasi ada berapa jenis bunyi yang mereka dengar.

- Menirukan ritme ketukan dari bunyi yang mereka dengar.

✔ Kemampuan berhitung dasar, perkenalkan mereka dengan materi sebagai berikut....
- Perkenalkan simbol angka dan apa makna nilai yang terkandung dalam setiap simbol angka tersebut. Artinya.....

✔ Ajarkan mereka bukan sekedar MEMBILANG dengan urutan yang benar seperti menyebutkan "1, 2, 3, 4, 5, dst".

✔ Dan yang paling penting adalah...
anak memahami apa yang dimaksud dengan NILAI.....
 2 atau nilai 4
 (bahwa angka 2 merepresentasi 2 barang, bahwa angka 4 merepresentasi 4 buah barang, dst).

Demikian banyak hal-hal yang perlu kita persiapkan saat anak di usia pra sekolah.

Lakukanlah dengan melibatkan dan menstimulasi seluruh panca indra mereka, atau yang kita sebut dengan TEKNIK MULTISENSORIS.

Jadi, bisa gunakan media bermain...
- yang bisa dilihat
- yang bisa dipegang
- yang bisa dirasakan teksturnya
- yang bisa didengar suaranya
- benda - benda yang warna warni (jangan lupa untuk di fahami warna warninya) dsb.

Yang paling penting, lakukan kegiatan belajar ini dalam nuansa bermain yang riang namun edukatif.

Selamat bermain😊 Sambil belajar📒✏

Source: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=436690663362741&id=100010654332505

Sunday, March 5, 2017

Anakku..Musa.
Suatu hari nanti kita akan duduk disini lagi. Kita akan saling bercerita, tentang apa saja...
Engkau akan tertawa, Umi akan mendengarkan ceritamu, tentang apa saja..tentang mainan kesukaanmu, makanan yg kamu inginkan, baju yg kamu ingin beli...
Suatu hari kita akan berbagi cerita ya...engkau akan memandang wajah Umi saat Umi bicara, tentang impian Umi menjadi Professor, tentang ghamis dan khimar yg Umi ingin beli, tentang tugas-tugas mengajar Umi, tentang mahasiswa bimbingan Umi, tentang masakan baru yg ingin Umi coba masak untukmu.

Hingga hari itu tiba, Umi akan berusaha segala yang terbaik untukmu...Jangan pernah ragu. umi selalu berjuang untukmu Anakku.
Kita akan berjuang bersama...Umi akan abaikan semua yg ingin menumbangkan semangat Umi..
Musa, Anakku...Engkau akan menjadi orang yg hebat, semoga engkau menjadi Anak yg sholeh😘

Sayang selalu..Umi.

Tuesday, February 14, 2017

Hangus Gara-gara Status..Oh no!

Ada yang posting video ini di facebook... #selfplak banget

Awalnya nggondhok juga, berasa beliau menyindir saya 

Padahal saya jarang nulis status tentang kegiatan beribadah *ge-er*


Hehehe...
Cara Allah mengingatkan bagi saya sungguh indah
Perlahan-lahan nonton video ini beberapa kali


Akhirnya saya sadar alangkah meruginya jika sampai kita bangkrut amalan














Tuesday, December 27, 2016

-




ada suatu masa...yang diinginkan hanya duduk diam.




Tuesday, December 20, 2016

Fenomena salah Satu social media


Facebook itu seperti bertetangga.. Setiap hari tetangga di android saya ini selalu ada postingan baru,
ada yg hobi selfie,
ada yg hobi makan,
ada yg hobi curhat,
ada yg hobi jalan-jalan,
ada yg hobi nongkrong,
ada yg hobi koleksi video barang-barang kreatif,
ada yg hobi update berita perang,
ada yg hobi politik,
ada yg hobi berdakwah,
ada yg hobi jadi tim sukses,
ada yg hobi dagang,

macam-macam hobinya.


Alhamdulillah saya tidak ada masalah dengan isi timeline...

Kalau ga suka postingan kawan tinggal saya unfollow...

kalau sangat mengganggu tinggal saya unfriend..

apalagi orang yg tidak saya kenal lalu nongol diberanda fb  posting yg menyebarkan berita hoax, menghina, dan menghujat, menebarkan kebencian tanpa ada dasar..pasti langsung saya unfriend.

Untuk apa bertetangga kalau tidak peduli dg tetangga yg lain, sejauh ini tetangga saya hanya seribu sekian angkanya, sebagian tidak saya kenal.

Fenomena timeline fb saya memanas dan gaduh sejak pilpres kemarin. Saling hina, saling serang, saling hujat setiap hari tetangga-tetangga ini beradu pendapat, tarik urat leher. Luar biasa!

Saya sempat log out dari fb selama hampir empat tahun, log in cuman like berita sekedarnya,.. tak sanggup melihat tetangga ini saling cekik..hehehe.

Lalu.....

Akhirnya saya bangun dari tidur panjang ini.

Sejak sadar ada tombol UNFOLLOW ini, sangat membantu sekali mengurangi keributan di timeline fb. Telat sadar he he.

Saya hanya ingin baca yg saya suka saja...

As simple as that!

Saya hanya follow yg cocok dengan pikiran dan membuat hati saya nyaman saja...

Lewat timeline fb saya bisa melihat diluar sana, masih banyak orang yg kesusahan dan menderita, saya bisa melihat dunia yg selama ini tidak pernah saya lihat.

Kehidupan nyata, bukan buatan, bukan video kreatif,...
real life.
Field report.
Keren!

Saya mulai mem-follow "tetangga" lain, yg berada di London, Arab Saudi, Qatar, Turki, Palestina...

Saya ingin tahu kabar langsung dari mereka, tak lagi hanya satu arah dari media massa.

Saya mulai membuka mata apa yg Ada di TV, di Koran...apakah semua itu benar??

Dulu kita dipaksa untuk percaya dg media, sekarangpun masih juga.
Dengan adanya media sosial kita bisa melihat seluruh kejadian didunia..

Kita bisa tabayyun, bisa membandingkan kebenaran suatu berita.
Kita tak lagi hanya pasrah untuk percaya dan mengiyakan, kita bisa mencari tahu.

Inilah introspeksi diri...

Semoga dengan bergantinya kalender, kehidupan Ber"tetangga" di fb akan semakin penuh berkah...

Setiap tulisan akan dihisab dihari akhir, sebaik-baiknya adalah yg bermanfaat.

Pic source : pexels.com







Monday, December 5, 2016

Ghibtah

Ghibtah...

Melihat ibu-ibu berboncengan dg anaknya, bernyanyi-nyanyi, bercerita, menunjuk apa saja mobil, motor, becak, sepeda, sampai kambing dipinggir jalan.

Melihat bapak-bapak dan Anak lelakinya saat berbelanja di supermarket, bercerita tentang sekolah, keinginan membeli mainan, makanan, sampai peralatan Belajar.

Melihat orang tua bercanda dengan anaknya, terkadang menjewer kuping anaknya kala mulai bandel kemudian tertawa bersama.

Melihat orang tua memilih DVD bersama anaknya, merencanakan acara menonton film bersama-sama di rumah, saling berebut film kesukaan.

Melihat interaksi orang tua dan sang Anak yg begitu disayang, saling bertanya dan menjawab...saling menatap berlama-lama.

Sebagai seorang Ibu, sangat rindu kudengar suaranya memanggil namaku, memanggil namaku sambil menggandeng tanganku, meminta apa saja sembari tersenyum padaku.

Mungkin bagi orang lain, keinginan macam apa ini...tapi begitulah yang kualami.

Rindu suara dan tatap mata putraku yang kusayangi.

Allah Al Musta'an...segala kebaikan telah engkau berikan..

Aaah masih banyak lagi...tak sanggup menulisnya lagi...

Semangat tak patah arang..perjalanan masih panjang, dikala merasa sendirian selalu Ada Allah yang menguatkan.


فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰن.


a hope




COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES